Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerima kunjungan Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, di Gedung Putih pada Senin (10/11/2025). Pertemuan ini terjadi seiring dengan pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai penangguhan sanksi terhadap Damaskus selama enam bulan ke depan.
Pertemuan antara Trump dan al-Sharaa menandai puncak dari perjalanan politik bagi pemimpin Suriah tersebut. Al-Sharaa, yang sebelumnya merupakan mantan komandan Al-Qaeda berusia 43 tahun, berhasil menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada Desember lalu. Kehadirannya di Gedung Putih menjadi momen penting, karena ia menjadi pemimpin Suriah pertama yang menginjakkan kaki di sana sejak negara itu merdeka pada 1946.
Isi pertemuan antara al-Sharaa dan Trump
Menurut laporan dari Kantor Kepresidenan Suriah, pertemuan ini membahas penguatan hubungan bilateral antara kedua negara, termasuk peluang kerja sama di berbagai sektor seperti ekonomi, keamanan, dan pendidikan. Selain itu, isu-isu regional dan global juga menjadi fokus pembahasan.
Setelah pertemuan, Trump memberikan pujian terhadap al-Sharaa. Ia menyebut bahwa al-Sharaa berasal dari lingkungan yang keras dan memiliki sifat tangguh. “Saya menyukainya,” ujarnya, seraya menegaskan komitmen AS untuk mendukung stabilitas Suriah. Menurut Trump, keberhasilan Suriah sangat penting bagi stabilitas kawasan Timur Tengah yang saat ini, menurutnya, sedang dalam suasana damai yang jarang terjadi.
Namun, Trump sempat menyentuh masa lalu al-Sharaa yang menuai kontroversi. “Kita semua punya sejarah kelam,” katanya. Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, al-Sharaa menegaskan bahwa masa lalunya dengan Al-Qaeda sudah selesai dan tidak dibahas dalam pertemuan tersebut. Ia menekankan bahwa Suriah kini dipandang sebagai mitra geopolitik AS, bukan lagi ancaman.
Misi melobi pelonggaran sanksi AS
Salah satu agenda utama al-Sharaa selama berada di Washington adalah meminta pemerintah AS untuk mencabut sanksi paling berat terhadap Suriah. Meski pertemuannya berlangsung tertutup, Departemen Keuangan AS justru mengumumkan perpanjangan masa penangguhan penegakan sanksi Caesar selama 180 hari.
Adapun kewenangan mencabut sanksi sepenuhnya tetap berada di tangan Kongres. Kunjungan al-Sharaa kali ini juga berlangsung jauh dari sorotan. Tokoh yang pernah dihargai 10 juta dollar AS atas penangkapannya itu hadir tanpa seremoni kenegaraan seperti biasanya. Ia memasuki Gedung Putih melalui pintu samping yang hanya sempat tertangkap sekilas oleh wartawan, bukan lewat pintu utama West Wing yang lazim digunakan untuk menyambut para VIP.
Usai pertemuan, Trump menyatakan optimismenya terhadap pemulihan Suriah. “Kami akan melakukan segala upaya untuk membantu Suriah meraih keberhasilan,” ujarnya.
Suriah bergabung dalam koalisi global anti-ISIS
Dilansir dari BBC, Selasa, Suriah dipastikan akan ikut serta dalam koalisi internasional memerangi ISIS, sebuah langkah yang menandai perubahan signifikan dalam arah kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah. Informasi ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pertemuan ini menjadi sinyal menghangatnya hubungan kedua negara setelah bertahun-tahun berada dalam ketegangan. Dalam wawancara dengan Fox News, al-Sharaa menggambarkan kunjungannya sebagai awal dari “era baru” kerja sama antara Suriah dan Amerika Serikat. Ia menegaskan kesiapan Damaskus untuk bermitra dalam isu keamanan regional.
Trump turut memberikan dukungan terbuka kepada al-Sharaa, sosok yang hingga beberapa waktu lalu masih berstatus sebagai teroris dalam daftar pemerintah AS. Dengan keikutsertaan Suriah, jumlah anggota koalisi global anti-ISIS kini mencapai 90 negara, dengan fokus memberantas sisa-sisa jaringan ISIS dan menghentikan perpindahan militan asing ke Timur Tengah.